1. Dianggap bukan kebutuhan utama. Kita di Indonesia mengenal kebutuhan pokok hidup itu meliputi pangan, sandang, dan papan. Asuransi tidak termasuk di dalamnya, sehingga banyak orang yang belum memandangnya sebagai barang penting yang wajib diusahakan dan dimiliki. Padahal, soal kesehatan itu bisa jadi sangat penting. Maka dari itu, asuransi jiwa adalah produk keuangan yang pas untuk dimiliki. Setidaknya asuransi jiwa dapat mengatasi tingkat ketergantungan keluarga di awal-awal saat ditinggalkan oleh Anda. Hingga pada akhirnya mereka akan mencari cara untuk memenuhi kebutuhan sendiri. 4. Berfungsi sebagai simpanan jangka panjang. Untuk asuransi jiwa, tiap perusahaan harus memiliki satu orang tenaga yang sudah bersertifikat sebagai Ahli Asuransi Indonesia Jiwa (A2IJ) dan Asuransi Indonesia Jiwa. "Tenaga ahli ini haruslah orang yang sudah memiliki sertifikasi A2IK atau A2IJ itu," ujar Sathorri di Banten, Rabu (20/3). Selain memiliki tenaga ahli, perusahaan yang mau masuk Freddy Pielor, seorang praktisi keuangan dan asuransi, mengatakan pekerja formal masih membutuhkan tambahan proteksi lain, selain BPJS dan Ketenagakerjaan, guna menutupi kebutuhan yang tidak bisa dibayarkan keduanya. Pasalnya, seluruh peserta BPJS harus menanggung kekurangan apabila terjadi kelebihan klaim (excess claim) dari yang ditetapkan. Namun apakah memang setiap orang memerlukan asuransi? Menurut Perencana Keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia Andi Nugroho, keperluan investasi tergantung pada kebutuhan, kemampuan, dan keyakinan setiap orang. Maka ia menilai, tidak semua orang perlu memiliki asuransi. Asuransi Kesehatan Keluarga Yang Tepat Untuk Pasangan Baru; Apa Itu Asuransi Penyakit Kritis dan Siapa yang Harus Punya? Kenali dan Pahami Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional; 5 Alasan Anda Harus Punya Asuransi Kesehatan Pribadi; 3 Pelajaran Penting Soal Keuangan di Tengah Pandemi; Adaptasi Kebiasaan Baru Menuju 'New Normal' lwDc2.

kenapa harus punya asuransi