GiveUp Or Loyal (menyerah Atau Setia)? Ibadah Raya 1, Ibadah Raya 2, Ibadah Raya 3, Ibadah Raya 4, Ibadah Raya 5. Pdt. Dr. Petra Fanggidae, M.Th. 04 Oktober 2020. Pk. 07:00, 09:00, 11:30, 14:00, 16:30 WIB. Pemesanan DVD Khotbah dapat dilakukan via telp di 021 2605 1888 / 021 2937 1333 atau melalui counter sekretariat pada saat Ibadah Raya Hari Merekatetap setia dalam iman. Hana sangat setia dalam persekutuan dengan Tuhan, bukan hanya sehari Hana berada di Bait Allah tetapi setiap hari. Kitapun diajak untuk setia menjalani hidup dan tanggung jawab sebagai istri, setia bersekutu dalam pertemuan - pertemuan ibadah, setia berjalan bersama Tuhan sepanjang tahun rahmat Tuhan bagi kita. 4. LebahPejantan. Nats : Ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna ( 2 Tesalonika 3:11) Bacaan : 1 Timotius 5:8-16. Saat duduk memandangi sarang lebah, saya tertarik pada aktivitas sejumlah besar lebah yang tampak sangat sibuk. Lakukanlahtugas pelayanan kita dengan setia dan sungguh-sungguh, jangan malas atau sambil bersungut-sungut. Jangan menganggap pelayanan sebagai suatu beban, sebaliknya, kita harus mengucap syukur karena telah diberikan kesempatan untuk ikut ambil bagian di dalamnya. Kiranya semangat kita untuk melayani senantiasa bernyala-nyala. Bagaimanatetap setia sampai akhir ~ Landasan firman Tuhan untuk tema tersebut diambil dari kitab Wahyu 2:8-11. Dalam Wahyu 2:10, penulis menegaskan demikian: "Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. SekolahTinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta ABSTRAK Khotbah gembala memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan warga jemaat. Iman jemaat diteguhkan melalui pemberitaan Fiman Tuhan dalam setiap ibadah, seperti: ibadah Dalam pelayanan Yesus begitu banyak jiwa yang bertobat dan mengenal ajaran yang baik dan hidup dalam J1v6q. Pengkhotbah Palijama Hari Minggu, 22 September 2019 Ayat Matius 2413 Kehendak Tuhan untuk kita setia dalam mengikuti Dia dan melayani Dia. Orang yang setia adalah orang yang bertahan sampai pada kesudahannya, dan bagi mereka yang setia akan mengalami keselamatan dari Tuhan Mat 2413. Orang yang setia adalah orang yang teguh memegang janji. Ketika kita berjanji untuk melayani Tuhan maka kita harus teguh memegang janji itu dengan melakukan pelayanan dengan setia. Orang yang setia adalah orang yang memiliki pendirian yang kokoh dan dapat dipercaya. Orang yang setia adalah orang yang taat. Dalam hal ini kita sebagai anak Tuhan, tentunya adalah ketaatan kepada Tuhan. Orang yang melakukan kesetiaan adalah orang yang memiliki karakter buah Roh Gal 522-23. Buah Roh adalah karakter dari Tuhan Yesus. Ketika melakukan kesetiaan itu artinya kita mengikuti karakter Tuhan Yesus. Dalam Filipi 26-9, diceritakan bagaimana keteladanan Tuhan Yesus dalam hal kesetiaan. Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang setia, dan kesetiaan-Nya digambarkan sampai ke awan karena begitu tinggi dan luasnya kesetiaan Tuhan Mzm 366. Sebab itu marilah kita untuk setia kepada Tuhan, karena Tuhan begitu setia kepada kita. Ciri/tanda orang yang setia kepada Tuhan adalah bertahan sampai akhir. Kata bertahan dalam Bahasa Yunani adalah hupomeno yang artinya tinggal tetap pada posisi semula artinya dalam keadaan apapun tetap kokoh/kuat dalam Tuhan, meskipun ada tekanan yang datang tetapi tidak mau mundur, karena Tuhan tidak berkenan dengan orang yang mundur Ibr 1037-39. Sebab itu kita mau tetap setia dan maju terus di dalam Tuhan sampai pada kesudahan. Kesudahan dalam bahasa Yunani adalah telos yang artinya akhir, finish dan ujung jalan. Dalam 2 Tim 46-7, hendaklah ini menjadi pegangan dalam hidup kita. Tetaplah setia sampai akhir setia sampai mati yang berarti telah mengakhiri kehidupan dan pertandingan iman dengan baik. Untuk kita seperti Paulus dapat bertahan sampai akhir setia sampai mati maka kita akan mengambil suatu gambaran bagaimana seorang pelari marathon yang berlari dalam satu area/gelanggang pertandingan yang jauh tetapi tetap bertahan sampai garis akhir. Untuk kita mengakhir pertandingan iman kita lewat gambaran pelari marathon maka yang harus kita lakukan adalah kita harus memiliki daya tahan rohani yang kuat, prima dan stabil. Karena ketika kita tidak memiliki daya tahan, maka kita akan kalah. Cara untuk memiliki daya tahan rohani bisa kuat adalah manusia roh kita harus kuat, dan Roh Kuduslah yang mampu untuk menguatkannya. Karena Roh Kudus adalah kuat kuasa Allah. Kuasa Allah akan terjadi ketika Roh Kudus turun Kis 18. Kuasa Roh Kudus dalam adalah dunamos/dunamis, yang kemudian bisa diibaratkan seperti dinamit untuk menghancurkan kekuatan musuh, seperti dinamo untuk menggerakkan,dan mendorong kita untuk maju dan menyala-nyala dalam melayani Tuhan Roma 1211b. Roh Kudus juga akan memberikan kita kasih Allah sehingga kita iba akan jiwa-jiwa yang terhilang Roma 55. Untuk kita memiliki daya tahan rohani yang kuat ada beberapa hal yang harus kita lakukan 1. Makan makanan Rohani yaitu membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hariMat 44b. Orang yang lapar dan haus akan kebenaran/Firman Tuhan akan dipuaskan oleh TuhanMat 56. Jadikan Firman Tuhan sebagai sukacita kita sehingga kita terus membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Orang yang hidup dalam Firman Tuhan akan tetap kudus Mzm 1199 sekalipun dunia semakin cemar. Orang yang hidup dalam terang Firman Tuhan tidak akan salah arah Mzm 119105. Membaca dan merenungkan Firman Tuhan adalah orang yang membangun diatas dasar yang teguh dan benar Mat 724-25 Gunakan waktu dengan baik, aturlah waktu setiap hari untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan. 2. Memiliki nafas rohani yang kuat /panjang. Nafas hidup orang percaya adalah Doa. Sebab itu kita harus terus membangun hubungan dengan Tuhan. Tetaplah berdoa 1 Tes 517. Tingkatkan doa, pujian dan penyembahan kita baik secara pribadi maupun korporat. 3. Berlatih dengan tekun. Masalah dan persoalan adalah latihan bagi kita untuk membentuk “otot-otot” rohani, membangun iman. dan mendewasakan kita. Ketika masalah datang maka kita harus berserah dan mengandalkan Tuhan. Setiap persoalan tidak akan melebihi kekuatan kita 1 Kor 1013, dan Tuhan turut bekerja dalam segala keadaan untuk mendatang kebaikan kepada kita Roma 828, segala perkara dapat kita tanggung di dalam Tuhan Flp 413, sebab itu jangan takut dengan masalah. Akhirnya ketika kita bertahan dan sampai pada akhirnya maka kita akan selamat. Selamat menikmati hidup yang kekal bersama dengan Tuhan. Orang yang setia sampai akhir akan menerima mahkota yang Tuhan sediakan bagi kita. Read more articles Doa malam adalah sebuah aktifitas ibadah yang dilakukan oleh satu orang atau lebih dalam sebuah komunitas Gereja. Istilah Doa malam adalah untuk mengumpulkan seluruh Jemaat berkumpul di Gereja mengadakan ibadah singkat Khusus Doa. Sebelum Doa Doa disampaikan terlebih dahulu melakukan Penyembahan beberapa lagu Rohani. Pada malam Rabu, tanggal 10 Juli 2018 saya mencoba membuat rangkuman Khotbah yang disampaikan. Selama ini saya tidak pernah melakukannya dan terkadan lupa apa saya yang di khotbahkan dalam ibadah tersebut. Selain untuk data pribadi saudara juga bisa belajar dari setiap Kotbah yang saya bagikan di blog Lagu Rohani ini. Baca juga Contoh Doa Malam Contoh Doa Syafaat Contoh Doa Kesembuhan dari sakit Doa malam hari ini tidak seperti biasanya dilakukan di dalam Gereja. Pada malam ini kita lakukan di Pastori supaya Bapak Gembala yang sedang terbaring sakit bisa ikut dalam Doa. Ada sekitar 20 orang dimulai dari 3 lagu Penyembahan, Doa Firman Tuhan, Khotbah Firman Tuhan singkat, dan terakhir satu orang berdoa Syafaat dan satu orang yaitu Ibu Gembala menutup Ibadah Doa. Khotbah Doa Malam Pembicara Ibu Yefrida Sarah Hari Rabu, 10 Juli 2018 Pelayan Tuhan yang Setia Roma 1211-21 Setia dengan Tuhan bukan hanya dalam kondisi susah ataupun senang tetapi dalam kondisi apapun. Hidup kita diciptakan untuk melayani Tuhan. Ciri ciri Pelayan Tuhan yang Setia Rajin atau tidak kendor Roma 1211 Roh kita selalu menyala-nyala ayat 11 Bersukacita dalam pengharapan, sabar dalam kesesakan dan bertekun dalam Doa ayat 12 Peduli kepada sesama, tidak egois dan tidak sombong ayat 13 Mengampuni siapapun yang menganiaya dan tidak mengutuk ayat 14 Hidup selalu sepenanggungan ayat 15-16 Tidak Pendendam ayat 17-18 Hidup jadi pemenang ayat 21 Kesimpulan Pelayan yang setia dimulai dari diri kita sendiri. Lakukanlah mulai dari hal yang terkecil. Jangan mudah terpengaruh dengan hal dunia tetapi tetaplah Rohmu menyala nyala dalam Pelayanan baik dalam Kondisi susah ataupun Senang. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun , asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah. Kisah Para Rasul 2024. Pendahuluan Kesetiaan adalah karakter Allah yang berlimpah-limpah kasih dan adalah setia dan memegang adalah Allah yang setia dan tidak ada kecurangan. Kesetiaan akan nampak dengan nyata pada waktu menghadapi ujian, sebab tendesi manusia adalah setia jika keadaan baik dan enak serta menyenangkan. Ketika badai kesulitan dan tantangan datang maka jangkar kesetiaan itu akan diuji. Setia kepada seseorang jika orang tersebut memberikan keuntungan yang dicarinya, jika tidak maka kesetiaan itu pudar setia kepada kepada hal-hala kecil lebih sulit dari pada setia kepada hal-hal yang besar. Kesetiaan bukan berarti ketaatan yang pasif, tetapi dari hal yang kecil dalam kesetiaan dapat mengembangkannya menjadi sesuatu yang lebih besar demi kemuliaan Tuannya Matius 2514-30. Itulah gambaran kesetiaan manusia. Kesetiaan yang di maksud dalam teks ini ialah kesetiaan di dalam melakukan firman Tuhan dan Kesetiaan terhadap Allah pencipta serta pemilik alam semesta. Di mana dalam mempertanggungjawabkan segala pekerjaan itu adalah kepada Allah. Jadi kesetiaan hamba harus siap untuk mengorbankan banyak hal, tidak memanjakan diri, tetapi melatih diri untuk tetap teguh, kuat untuk mencapai garis akhir dengan mengatakan Menjadi seorang pengikut Yesus berarti menjadi murid Yesus. Seorang murid adalah seorang yang menjadi mirip dengan orang yang diikutinya, seseorang yang mencontoh gurunya dalam segala halnya juga seorang hamba dalam mengikuti tuannya dalam banyak hal. Dalam hal ini pribadi yang perlu di tiru adalah Tuhan Yesus sendiri,dimana Ia menjadikan DiriNya Hamba, dan taat sampai mati itulah bukti kesetiaan kepada seorang pelayan haruslah melakukan seperti yang Tuhan Allah tidak menginginkan pengakuan dibibir tetapi nyata dalam pola kehidupan setiap hari. Bagaimana mungkin seorang pelayan menyebut dirinya setia, tetapi yang terlihat dari pola hidup setiap hari tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah. Seorang tabib diperlukan oleh orang yang sakit, begitu halnya Veerman mengatakan bahwa“Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani, dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi orang banyak Markus 1045, melayani dan memberikan memang radikal sifatnya, dan kita pun dipanggil untuk melakukan hal ini” Demikianlah Tuhan menunjukkan kesetiaanNya lewat pengorbananNya di atas kayu salib. Berikut ini eksegese beberapa kata penting yang dapat memberikan pemahaman yang dalam bagi orang percaya terlebih-lebih bagi pengurus gereja sebagai pelayan Tuhan tentang makna ungkapan “Kesetiaan Melayani Sampai Akhir” yang terdapat dalam Kisah Para rasul adalah sebagai berikut Rasul Paulus” Tidak Menghiraukan Nyawanya” Dalam bahasa Yunani kata “nyawaku” adalah υήν dari kata dasar υή psukhȇ bentuk kata noun feminine singular accusative, kata benda tunggal bersifat objek langsung, yang berarti jiwa, nyawa, hidup, hati, orang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia nyawa diartikan pemberi hidup kepada wadah organisme fisik yang menyebabkan hidup pada manusia, keadaan yang sulit, dan berbahaya. Dalam King James Version memakai kata “neither count I my life dear unto my self”, artinya ia tidak memperhitungkan hal yang berharga nyawa maupun jiwanya asal saja ia mencapai garis akhir dan setia sampai mati. Artinya Paulus mengorbankan hal yang berharga, asal saja ia mencapai garis akhir. Dalam The Interlinear Greek-English New Testament memakai kata “But of nothing account I make”, artinya meski saya harus memberikan nama/harga Rasul Paulus menganggap itu semua tidak penting, asal saja Paulus memperoleh mahkota. Fokus utama Rasul Paulus bukanlah mempertahankan hidupnya; yang paling penting baginya ialah bahwa ia dapat menyelesaikan pelayanan yang dipercayakan Allah kepadanya. Di manapun tugas itu berakhir, bahkan dengan mengorbankan nyawanya sekalipun ia akan menyelesaikan pelayanannya dengan sukacita dan doa agar "Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku baik oleh hidupku, maupun matiku" Filipi 120 Bagi Paulus, hidup dan pelayanan bagi Kristus adalah sama dengan perlombaan yang harus diikuti dengan kesetiaan mutlak bagi Tuhannya Kisah Para Rasul 1325; 1Korintus 924; 2Timotius 47; Ibrani 121. Paulus dipenjarakan, dicambuk, dirajam, diusir oleh bangsanya sendiri, tetapi sebaliknya ia selalu bersukacita di dalam Roh Kudus. Menderita kesusahan karena Kristus bukan menandakan bahwa Allah telah meninggalkan kita, melainkan Allah menyertai umatNya. Sekalipun tubuh ini tersiksa, bagi Paulus hal itu akan membawa sukacita bagiNya, sebab Paulus percaya bahwa Tuhan Yesus tidak pernah meninggalkannya, bahkan Paulus terus mengingatkan orang-orang pada waktu itu agar tetap mengasihi Kristus lebih dari nyawa mereka sendiri. Calvin mengatakan bahwa standar penyangkalan diri tidak hanya memikirkan orang lain dengan lebih baik dari pada diri sendiri, tetapi sebenarnya marilah kita mengusahakan kebaikan orang lain, bahkan dengan sukarela melepaskan hak-hak kita demi kepentingan orang hendaklah setiap orang percaya dengan sukarela memberi diri sepenuhnya kepada Allah Calvin menjelaskan bahwa“Dasar dari sikap ini adalah bahwa semua orang diciptakan sesuai dengan gambar Allah, dan kepada mereka kita berutang seluruh penghormatan dan kasih yang dapat kita berikan. Hal ini benar terutama bagi umat percaya lainnya, karena mereka telah dihidupkan di dalam Kristus melalui karya Roh Kudus. Bahkan jika seseorang melakukan perbuatan tercela dan tidak berharga, ia masih menyandang keserupaan dengan Allah dan oleh karena itu ia layak menerima rasa hormat dan pertolongan ketika ia memerlukannya. Dan Tidak ada seorang pun yang sungguh-sungguh telah menyangkal dirinya jika dia belum menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Tuhan dan rela memercayakan setiap detail kehidupannya kepada kerelaan kehendakNya Berdasarkan pemahaman diatas Penulis menyimpulkan bahwa hamba yang tidak sungguh-sungguh menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah, sangat susah baginya untuk menyangkal diri demi melayani Tuhan, tetapi hamba yang setia adalah hamba yang sungguh-sungguh menyerahkan diri sepenuhnya dan menyangkal diri. Rasul Paulus bertekad “Mencapai Garis akhir” Mencapai garis akhir dalam bahasa Yunani memakai kata “ηεηέλεκα” teteleka dari kata dasar “ελέ” telow.18 Dalam bentuk verb first person singular perfect active indicative yang artinya kata kerja yang dilakukan seseorang secara terus menerus dengan memiliki arti mengakhiri, menyelesaikan, melakukan, menaati, Kamus Besar Bahasa Indonesia kata akhir memiliki arti kesudahan, penghabisan. Jadi mencapai garis akhir adalah menyelesaikan atau mengakhiri sebuah pelayanan yang telah dipercayakan kepada setiap pelayan Tuhan Aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang dimaksud dengan perkataan ini ialah “untuk menyelesaikan perlombaan dan pelayanan.” kata perlombaan mencapai garisakhir disini sama dengan yang di 2Timotius 47. Artinya bahwa Rasul Paulus bertanding lari, tetapi sebagai kiasan untuk tugas yang telah Allah berikan kepada Paulus. Matthey Henry mengatakan bahwa keberhasilan Paulus dalam melayani yaitu Paulus berhasil memberitakan Injil bahkan jemaat yang dilayaninya semakin diteguhkan didalam Tuhan dan secara Rohani mereka dibangun,sehingga mereka terus meyakini bahwa anugerah itu bukan dari hasil usaha mereka akan tetapi pemberian Allah. Berdasarkan pendapat di atas Penulis menyimpulkan bahwa ketika Rasul Paulus mengatakan “saya telah mencapai garis akhir”berarti rasul Paulus telah berhasil memberitakan Injil walaupun Paulus mengalami berbagai tantangan dan cobaan, sebab rasul Paulus yakin bahwa Allah yang menguatkannya dan dapat menaklukkan itu semua. Seperti halnya Murray juga mengatakan “Hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasaNya, pertandingan yang baik adalah karena Tuhan Yesus yang memberi kemenangan itu. Maka hanya Ia sendirilah yang dapat menaklukkan musuh”.Jadi dalam melawan musuh bukan dengan kekuatan dan kehebatan manusia tetapi hanyalah dengan kuasa Tuhan Yesus adalah sumber kekuatan bagi orang percaya. Jadi tantangan yang dihadapi Rasul Paulus bukan hanya dari orang-orang pada saat itu, tetapi tantangannya adalah bagaimana Rasul Paulus dapat mencukupi keperluan dan kebutuhannya sendiri dengan menjual tenda. Keperluan dalam bahasa Yunani memakai kata“ρείαι” dari kata dasar ρεα kheria dalam bentuk noun feminine plural dative yang menyatakan perempuan jamak sebagai objek tidak keperluan, kebutuhan, kekurangan, Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “keperluan” adalah sebuah keharusan, kemestian, yang perlu. Dalam terjemahan Exegetical Dictionary of the new tastemant menggunakan kata Cheria need, necessity keperluan-keperluan.Jadi secara harafiahnya kata memenuhi keperluan bararti mencukupi apa yang ada, melayani, bahkan memberi untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan yang lain. Marshall berkomentar bahwa “untuk memenuhi keperluanku” Paulus menolak untuk menerima bantuan dari para jemaat yang sedang ia layani karena tuduhan terus menerus oleh guru-guru palsu tentang motifasinnya. Paulus memenuhi kebutuhannya sendiri dengan membuat tenda Lih. 1 Korintus 412; 93-7; 2 Korintus. 117-12.23 Powell menegaskan bahwa disamping Paulus menyebarkan Injil Paulus adalah pembuat tenda, membangunnya dan membongkarnya. Jadi kebutuhan rasul Paulus bukan hasil dari pemberian orang yang ia layani, tetapi dengan tangannya sendiri dengan profesi sebagai tukang tenda. Bahkan hasil yang ia dapat dalam pembuatan tenda, Paulus juga masih berbagi dengan orang lain. Packer mengatakan bahwa Setelah Paulus melayani orang-orang non-Yahudi selama hampir 3 tahun, di Yerusalem, Paulus kembali ke Antiokhia, dari sana ia menuju Galatia, firgia, Derbe, Listra, Ikonium, dan Antiokhia. Setelah itu ia memutuskan untuk menginjili secara intensif di Efesus. Di Efesus inilah Paulus menunjukkan tahun-tahun paling berat baginya, dimana ia harus menghidupi dirinya sendiri dengan membuat dan menjual tenda-tenda. Dimana rasul Paulus pagi-pagi benar dia mulai membuat tenda, siang harinya dia mengajar, dan memberitakan Injil, kemungkinan hingga malam hari. Paulus bekerja dengan tangannya sendiri sehingga dapat menolong kawan-kawan sekerjanya. Hal ini tentu sangat sulit bagi pemberita Injil, akan tetapi ia sungguh-sungguh berusaha agar dapat memenuhi keperluannya sendiri. Basuki mengatakan bahwa “melayani Tuhan harus dengan motifasi yang murni.” Paulus menuliskan dalam 2 Timotius 13, aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku baik siang maupun malam. Dalam melayani Tuhan harus harus memiliki motifasi yang murni. Artinya pelayanan kita kepada Dia bukan karena pamrih atau pahala, melainkan karena ucapan syukur kepadaNya yang telah memilih, menyelamatkan dan melayakkan kita untuk menekankan kepada setiap pelayan Tuhan, supaya memiliki motifasi yang benar dalam melayani Tuhan. Seperti Wiersbe mengemukakan bahwa “Niat hati seorang pelayan Tuhan haruslah untuk memuji Tuhan, bukan untuk dipuji, untuk mendapatkan upah kekal disurga, bukan pengakuan sesaat di dunia”. “Engkau tidak akan memperoleh upahmu dua kali” Matius 61-18. Pada hari penghakiman, banyak orang yang saat ini menjadi yang terdahulu di mata manusia akan menjadi yang terakhir di mata Allah. Sebaliknya banyak yang terakhir di mata manusia akan menjadi yang terdahulu di mata Allah 1330. Jika niat hati kita benar, Allah pasti akan memberi kita upah yang setimpal meskipun kita tidak berniat mengejar upah. Bila kita melayani orang lain dari hati yang tulus, kita sedang mengumpulkan harta di sorga Matius 620 dan menjadi “kaya di hadapan Allah” 1221”.Artinya bahwa hamba di tuntut untuk memiliki motifasi yang benar dalam pelayanan. Scougal mengatakan Jika kamu telah mengalami kasih yang mendalam kepada Kristus dan telah belajar untuk tinggal di dalam Dia, berpeganglah kepadaNya dengan seluruh biarkan dirimu diperdaya untuk mengejar hal-hal yang sia-sia dari dunia tahu bahwa hal-hal itu tampaknya memberikan sukacita, rasa aman, dan kepuasan, namun sesungguhnya semuanya itu hanyalah angan-angan. Hal ini menjelaskan bahwa seorang hamba Tuhan harus hidup bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, sebab upah bagi orang yang menjadi murid sejati ialah ia menjadi semakin serupa dengan Yesus Kristus dan kelak akan mendapat bagian dalam kemuliaanNya. Menurut Calvin, kita seharusnya tidak perlu mengharapkan kekayaan, kehormatan, atau kekuasaan, tetapi kita seharusnya percaya sepenuhnya bahwa segala sesuatu hanya tergantung pada berkat Ilahi”. Maksdunya bahwa kehormatan, kekayaan bukanlah yang utama dalam pelayanan, tetapi bagaimana orang percaya dan hamba Tuhan menyadari bahwa apa yang ada di dunia ini berasal dari Tuhan. Dan sebagai murid memiliki motifasi yang benar di hadapan Allah. Artinya kekayaan dan kehormatan bukanlah yang utama dalam melayani Tuhan, tetapi bagaimana seorang hamba sungguh-sungguh mau melayani Tuhan hanya bergantung kepada Tuhandan murni hanya untuk Tuhan. Rasul Paulus bertekad“Aku Menyelesaikan Pelayanan” Menyelesaikan pelayanan dalam bahasa Yunani memakai kata ’ηελειώζαι’ dari kata dasar ηελειφ teleioō”.dalam bentuk Verb Aorist Active yang artinya kata kerja yang dilakukan secara aktif. Memiliki arti menyelesaikan, habis, terjadi, berhasil memenuhi. Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia kata “menyelesaikan” diartikan menyudahkan, menyempurnakan, menjadikan berakhir, menamatkan. Paulus yang terberkati itu tidak menghiraukan nyawanya sedikitpun demi hal itu bertekad dalam kekuatan Kristus, bahwa dia tidak akan kehilangan tujuan hidup hanya demi mempertahankan nyawanya. Dia rela menjalani hidupnya dengan bekerja keras, mempertaruhkan nyawanya dalam pelayanan yang berbahaya, dan menghabiskan waktunya untuk pelayanan yang dia rela menyerahkan nyawanya sebagai martir, sehingga Paulus menggenapi maksud dari kelahirannya, babtisannya, dan panggilannya. Artinya Rasul Paulus mengambil tekad untuk tetap setia melayani Tuhan, sekalipun banyak pencobaan yang Paulus hadapi, bahkan nyawa sekalipun Paulus pertaruhkan. Park Mengatakan bahwa Pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku, diantara pencobaan yang paling menyedihkan yang dialami orang percaya, adalah pencobaan berupa ancaman rencana jahat dari sesama manusia. Orang yang menerima pencobaan itu harus meminum cawan pahit kesendirian, akan tetapi kesendirian adalah obat yang baik untuk memandang dan bersandar hanya kepada Tuhan serta percaya hanya kepadaNya. Hal-hal tersebut menimpa Paulus dari pihak orang Yahudi yang mau membunuhnya, yang masih berkomplot untuk merancangkan kejahatan melawannya. Perhatikanlah para hamba Tuhan yang setia akan terus melanjutkan pelayanan mereka bagiNya di tengah-tengah aral dan bahaya, tanpa menghiraukan sedikit pun musuh-musuh macam apa yang harus mereka hadapi, supaya mereka dapat membuktikkan diri layak di hadapan Guru mereka dan menjadikan Dia sahabat mereka. Calvin menuliskan tentang kerendahan hati kita dan kehebatan atau pengagungan Allah kerendahan hati kita adalah kehebatanNya, sehingga pengakuan dari kerendahan hati kita menyediakan pemulihan dalam belas bahwa pelayanan tidak akan berakhir dengan baik jika seorang pelayan Tuhan tidak memiliki kerendahan hati Kerendahan hati dalam bahasa Yunani memakai kata απεινουρουνη tapeinophrosune yang artinya “kerendahan hati”. Dengan kasus kata benda feminine singular genitive. Dalam King James Version memakai kata ”humility of mind”, yang artinya menjaga kerendahan hati dari pikiran, akal, ingatan. Dalam New American Standard memakai kata “afflict, menyebabkan hati menderita, menimpa, Oppress menekan, Humble sederhana, rendah, merendahkan hati. Dalam kamus Alkitab kerendahan hati artinya sifat baik, yang dalam Perjanjian Lama ditunjukkan dengan perilaku lahiriah seperti menangis, berpuasa, dan mengoyakkan jubah 1 Raja-Raja 2129; 2 Raja-raja 2211-20. Jadi secara harafiahnya kerendahan hati ialah menjaga hati, pikiran akal, sederhana dan merasa tidak berdaya. Dalam Perjanjian Baru kerendahan hati adalah merasa tak berdaya seperti anak- anak Matius 184, tidak mempertahankan kedudukan Filipi 28-9, atau tidak merendahkan kedudukan. Rendah hati artinya tidak menganggap diri lebih hebat atau lebih kuat dari pada orang lain. Seperti halnya rasul Paulus mengungkapkan kepada para penatua yang ada di Efesus. Rasul Paulus menyatakan bahwa dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan. Rasul Paulus “Memberi Kesaksian” Memberi kesaskian dalam bahasa Yunani memakai kata “διαμαρηύραζθαι” dari kata dasar διαμαρηύρομαι diamarturomai dalam bentuk verb aorist middle infinitive yang artinya kata kerja yang dilakukan terus menerus yang memiliki arti bersaksi, memberi kesaksian, memperingati. Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia kata ’kesaksian’ memiliki arti menyatakan. Dalam Firman Allah Yang Hidup mengatakan ”tetapi apalah artinya hidup saya ini, jika saya tidak melaksanakan pekerjaan yang ditugaskan kepada saya oleh Tuhan Yesus, yaitu mengabarkan berita kesukaan mengenai kasih dan kebaikan Allah yang Mahabesar.” Secara harafiahnya tugas bagi hamba Tuhan dan bagi orang percaya ialah memberi kesaksian lewat pengajaran dan pemberitaan kabar baik bagi orang percaya maupun bagi mereka yang belum mengenal Injil. Pekabaran Injil adalah pemberitaan kabar gembira tentang Tuhan dengan maksud supaya orang yang mendengar berita itu mengambil keputusan untuk bertobat kepada Kristus. Pekabaran Injil ditujukan kepada orang-orang yang belum mengenal Injil sama sekali, bahkan tidak tertutup kemungkinan juga bagi orang Kristen yang sudah lama meninggalkan Tuhan, dengan maksud supaya semua orang itu menyerahkan kehidupannya secara penuh kepada Tuhan. Seperti halnya dikatakan oleh Metzger bahwa Apa yang terjadi seandainya seorang dokter ahli bedah yang sedang mengerjakan pembedahan pasien yang gawat, tiba-tiba menyadari bahwa pisau bedahnya tidak ada? Ia akan berseru dengan cemas, “saya tidak mempunyai alat yang tepat untuk membuat irisan ini” kita pun terpanggil untuk menjadi dokter yang mengobati jiwa-jiwa. Kita sudah diberi pisau bedah, namun terkadang kita lupa menggunakannya padahal alat ini mutlak diperlukan untuk membedah hati orang-orang yang belum percaya. Jadi memberitakan Injil adalah tanggungjawab setiap orang percaya. Allah yang memanggil dan memilih setiap orang percaya untuk menyatakan rahasiaNya kepada umatNya. Sebagai hamba yang setia senantiasa memiliki motifasi yang benar dalam melayani Tuhan, dan hanya fokus kepada kebenaran. Memberitakan Injil buakanlah paksaan, atau tidak dengan rela hati tetapi sebagai orang percaya yang telah diselamatkan dan dibebaskan tugasnya hanyalah menyampaikan dan mengajarkan kabar baik kepada semua orang. Kajian Teologis Penulis akan membahas dalam kajian theologis tentang kesetiaan pelayanan dan pengorbanan, mengakhiri dengan baik, dan kesetiaan memberitakan Injil. Kesetiaan Pelayanan dan Pengorbanan Wong mengatakan hidup Paulus tidak berarti baginya, melainkan tidak berarti ketika dibandingkan sesuatu dengan yang lain. sesuatu yang lain itu adalah menyelesaikan tujuan dengan sukacita, menggenapi pelayanan yang ia terima dari Tuhan pelayan memiliki tujuan yang harus dijalani dan diselesaikan, sebuah pelayanan untuk orang percaya jalani dan genapi. Artinya hidup akan sangat berarti jika seorang pelayan Tuhan, menyelesaikan tugas yang telah Tuhan percayakan kepadanya. Wong mengatakan bahwa Paulus percaya bahwa hidupnyaadalah milik Allah. Paulus tidak khawatir tentang hidupnya dan masa depannya.“Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun asal aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk bersaksi tentang Injil anugerah Allah. Keberadaan hidup Paulus di dunia ini ia sadari hanyalah bagi kemuliaan Kristus. Stephen Tong menjelaskan; Allah sumber kita Ia adalah tujuan kita. Allah itu titik permulaan dan titik akhir dari permulaan kita berasal dari Dia dan berlangsung proses hidup untuk menyenangkan hati Tuhan. Rasul Paulus membuktikkan kesetiaannya dengan perkataan aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu ayat 27, artinya Paulus tidak pernah lalai melakukan tugas yang Tuhan perintahkan kepadanya, Rasul Paulus tidak dengan sengaja atau berencana menghindar dari tugasnya memberitakan bagian manapun dari maksud Allah. “Dia tidak pernah menolak memberitakan bagian-bagian paling sulit dari Injil hanya hanya karena tidak mau bersusah payah, juga tidak menampik untuk memberitakan bagian-bagian yang yang paling jelas dan mudah hanya untuk mepertahankan tidak menghindari diri untuk memberitakan ajaran-ajaran yang dia tahu Stephen Tong. Peta dan Teladan Allah Jakarta Lembaga Reformed Injili Indonesia 2009, akan membuat murka para musuh besar kekristenan, ataupun ajaran-ajaran yang tidak menyenangkan bagi para pemeluknya yang tidak taat, melainkan meneruskan pekerjaannya dengan setia, tidak peduli apakah mereka bersedia mendengarkannya atau menampiknya.”kesetiaanRasul Paulus, sangat terbukti dimana Paulus tidak pernah menghindar dalam tugasnya, bahkan tidak menghirakan kondisi dan situasi. Machartur berpendapat bahwa“Sebagai pelayan Tuhan harus bertumpu pada kepercayaan, dan kepercayaan dipupuk melalui kesetiaan. Dimana kepercayaan dilahirkan dan penghormatan dipertahankan, ada harga yang harus dibayar, yaitu pelayanan penuh pengabdian.”pelayan Tuhan yang memmiliki iman yang kuat, tidak mudah untuk dalam menghadapi apa pun. Penulis menyimpulkan bahwa kesetiaan dan pengorbanan Paulus sungguh menjadi teladan bagi setiap pelayan dan pengorbanannya dimana rela kehilangan nyawa, rela dianiaya rela kehilangan segala-galanya, ini merupakan ciri dari kehidupan seorang pelayan Tuhan rela berjiwa hamba seperti Yesus Kristus. Pelayanan Dan Finishing Well Penulis mengambil beberapa prinsip bagi pelayan Tuhan bagaimana pelayan Tuhan termasuk pelayan-pelayan yang menyelesaikan dengan baikUntuk menyelesaikan dengan baik, pelayan harus mulai sekarang. Wong mengatakan “waktu terbaik untuk menanam sebua pohon adalah dua puluh tahun yang kedua terbaik adalah sekarang” apakah kita sudah melakukan dengan baik dimasa lampau, seorang pelayan selalu memulai sekarang untuk menyelesaikan dengan baik. Marthin Luther mengatakan bahwa hanya ada dua hari yang penting sepanjang masa hari ini dan hari itu. Begitu seoarng pelayan Tuhan dalam mengambil sebuah keputusan bagaimana ingin tampil dihadapan Allah pada hari itu, pelayan Tuhan juga memutuskan bagaimana hidup hari ini. Menyelesaikan dengan baik bukanlah sebuah pertimbangan di masa depan; ia harus menjadi sebuah obsesi masa kini Marsal mengatakan bahwa “Perak, Emas, dan Pakaian adalah bagian dari kekayaan.”Brink berpendapat kekayaan orang-orang zamannya Paulus Matius 619 Berdasarkan pemahaman diatas penulis menyimpulkan bahwa kesetiaan yang dilakukan oleh Rasul Paulus sanagatlah luar biasa jika dibandingkan dengan hamba Tuhan sekarang ini karena tantangan yang Paulus hadapi dalam pelayanan bukanlah tantangan yang biasa akan tetapi rasul Paulus melakukannya dengan teguh supaya Paulus bisa mencapai tujuannya yaitu memberitakan injil. Rangkuman Pelayan Kristus yang baik ialah pelayan yang setia. Loyalty artinya “patuh dan setia” jadi setia berarti sedia mengerjakan perintah itu dengan sikap hati yang benar dan kualitasterbaik sampai pun hal-hal yang dituntut kepada seorang hamba adalah dimana sebagai pelayan-pelayan Tuhan mereka dapat dipercayai, setia dalam melaksanakan tugas mereka sampai akhir. Paulus mengacu kepada ajaran Yesus yang mengikutsertakan gambaran tentang seorang penatalayan yang setia Lukas 1442 161-8, bagi Paulus sebagai seorang rasul dan hamba Tuhan yang utama dalam hidupnya untuk tetap setia kepada Tuhan yang setia adalah hamba yang mencapai garis akhir dan tentu selama melayani Tuhan sangat dibutuhkan kesetiaan seorang hamba. Kesetiaan hamba Tuhan akan diuji oleh waktu dimana ia akan mengalami berbagai penderitaan, kesengasaraan, pergumulan, dan banyak hal yang akan dialami dalam melayani Tuhan. Disinilah akan teruji seorang hamba Tuhan bagaimana kesetiaannya kepada Tuhan. Di dalam kesetiaan hamba dituntut untuk selalu meneladani karakter Kristus yang setia melayani sampai akhir. Kesetiaan berbicara tentang ketahanan, keteguhan untuk mencapai tujuan khususnya ketika berada dalam bahaya dan ini menjelaskan kesetiaan dalam melaksanakan tugas dan pengabdian tanpa pamrih pada orang tertentu dan prinsip-prinsip – kesulitan, bahaya dan perbedaan-perbedaan. Kesetiaan tidak berarti acuh tak acuh atau bersikap juga berarti menahan rasa sakit tanpa adalah sifat yang positif dan berasal dari kasih yang terus mengalir dan keluar sebagai setia berarti tabah dan mempertahankan kebenaran ketika menghadapi yang setia tidak mengesampingkan masalah, atau berusaha untuk melepaskan diri lewat jalan yang mudah, atau menghindar ketika ancaman datang, orang yang setia tetap mengahadapi masalah mereka. Kesetiaan juga diartikan “ketaatan”, ini menggambarkan sebagai sebutan untuk pelaksanaan kewajiban, ketaatan yang teguh pada kebenaran dan berarti tetap kuat walaupun semua perasaan dan kesulitan, bahkan sukacita yang pernah dialami sekalipun telah KESETIAAN MELAYANI SAMPAI AKHIR KISAH PARA RASUL 2024.David Susilo Pranoto Khotbah Minggu, 14 Februari 2021 Disiapkan oleh Pdt. Alokasih Gulo 1 Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati. 2 Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah. 3 Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, 4 yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah. 5 Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus. 6 Sebab Allah yang telah berfirman "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. Apakah semua hal yang baik dan benar diterima dengan hati yang tulus dan terbuka oleh setiap orang? Belum tentu! Apakah semua berita baik diterima dengan sukacita oleh setiap orang? Belum tentu! Apakah semua pekerjaan yang baik dan benar dapat dilakukan oleh setiap orang? Belum tentu? Apakah semua orang dapat melihat secara positif hal/peristiwa yang terjadi di sekitarnya? Belum tentu! Ada banyak contoh nyata tentang hal yang baik dan benar yang belum tentu diterima dan dilakukan oleh setiap orang. Orangtua menyampaikan nasihat kepada anak-anaknya misalnya, untuk kebaikan anak tersebut. Tetapi, tidak semua anak mau mendengarkan dan melakukan nasihat itu; malah ada yang mengolok-olok orangtuanya yang menasihatinya. Demikian juga dengan didikan guru atau dosen yang mengarahkan anak didiknya ke arah yang lebih baik, ada yang mematuhinya, tetapi ada juga yang tidak, bahkan ada yang mempermainkan guru/dosennya. Pemberitaan firman Tuhan oleh para pelayan, ada yang merenungkan dan melakukannya dengan sepenuh hati, tetapi banyak juga yang malah menertawakannya. Atau, hari ini misalnya, valentine’s day, hari kasih sayang, apakah semua orang sungguh-sungguh mengasihi/menyayangi sesamanya? Belum tentu! Fenomena seperti ini juga terjadi kepada Rasul Paulus, ketika dia memberitakan berita Injil kepada orang-orang Korintus. Ada sejumlah pihak di Korintus yang tidak menerima dengan baik pengajaran Paulus, bahkan sejumlah pengacau Yahudi yang justru memprovokasi jemaat untuk melawan Paulus 2 Kor. 1122-23. Ketika Paulus mendatangi kembali Korintus 2 Kor. 21; 1214; 131, dia tidak diterima dengan baik oleh jemaat, malah ada di antara mereka yang menghina dia 2 Kor. 25; 712. Orang-orang Korintus memang terkenal sebagai orang-orang yang rewel dan keras kepala. Mereka sulit diatur, apalagi dengan adanya provokasi atau pengaruh negatif dari beberapa orang Yahudi yang memang sengaja mengacaukan jemaat pada waktu itu. Orang-orang ini mempertanyakan kerasulan Paulus. Ada banyak faktor yang membuat mereka melawan Paulus dan tidak menerima ajarannya tentang Injil Kristus. Faktor utama adalah karena Injil yang diberitakan oleh Paulus telah mengganggu kepentingan dan hasrat duniawi mereka. Itulah sebabnya Paulus menegaskan bahwa pelayanan pemberitaan Injil yang dia lakukan terjadi karena kemurahan Allah saja, bukan karena keinginannya sendiri. Artinya, Paulus tidak memiliki motivasi dan tujuan duniawi dalam pemberitaan Injil seperti yang dituduhkan selama ini. Paulus tidak pernah melakukan pelayanan dengan motivasi dan tujuan duniawi yang hina itu. Paulus yakin penuh bahwa pelayanan yang dilakukannya itu bersumber dari Allah dan ditujukan untuk kemuliaan-Nya. Pelayanan Paulus tersebut sebenarnya dapat mendatangkan sukacita keselamatan bagi mereka yang dengan tulus percaya kepada Kristus dan mau dengan rendah hati menerima serta melaksanakan pengajaran Injil Kristus itu. Tetapi, berita sukacita tersebut sulit diterima oleh orang-orang yang masih rewel, keras kepala, dan malah menjadi provokator di tengah-tengah jemaat. Mereka selalu mencari-cari alasan untuk melawan dan menentang kebaikan. Jadi, tidak semua orang menerima dengan hati yang terbuka hal-hal atau berita yang sebenarnya baik dan benar itu. Walaupun demikian, Paulus tetap setia dalam pelayanan Tuhan. Tantangan dan hinaan yang dia terima tidak melemahkan semangatnya dalam pelayanan Tuhan. Dia tetap setia apa pun yang terjadi. Dia tetap memberitakan Injil walaupun ada orang yang malah mengolok-oloknya. Paulus adalah salah seorang pelayan Tuhan yang setia, teladan bagi kita untuk tetap setia dalam pelayanan Tuhan di tengah-tengah era yang memprihatinkan ini. Kita harus menyadari bahwa tidak semua orang mau menerima dengan baik pemberitaan Injil. Kita harus menyadari bahwa tidak semua orang senang dengan diri kita. Kita tidak pernah mampu menyenangkan hati semua orang, sebab selalu saja ada orang yang tidak berterima dengan hal-hal yang sebenarnya baik. Menurut Paulus, orang-orang yang tidak mau menerima hal-hal yang baik, akan binasa 43. Paulus menegaskan bahwa sekalipun Injil itu pada dasarnya menjadi berita keselamatan, berita sukacita, berita terang dalam kegelapan, dan sumber berkat bagi para pendengarnya, tetapi bisa saja tidak dinikmati karena tidak semua orang mau menerimanya dengan penuh keterbukaan dan kerendahan hati. Salah satu faktor yang membuat manusia tidak menikmati sukacita Injil adalah karena mereka telah terjebak dan terjerat dalam lilitan ilah zaman, yaitu lilitan yang tampaknya sangat menarik, sangat menjanjikan, sangat menyenangkan, tetapi sesungguhnya dapat membutakan mata dan pikiran, bahkan dapat membawa manusia ke dalam kebinasaan. Lilitan zaman inilah juga yang menghalangi pemandangan manusia hingga saat ini sehingga banyak orang yang tidak mampu lagi melihat dengan jelas cahaya kemuliaan Allah. Banyak orang yang setiap hari lebih banyak melihat cahaya malapetaka, cahaya kemunafikan, cahaya kebobrokan, cahaya kerewelan dan kekerasan kepala, cahaya kekacauan, dan mungkin saja cahaya para provokator, seperti di jemaat Korintus tadi. Oleh sebab itu, perlu menjernihkan hari dan pikiran untuk mampu menerima hal-hal yang baik dan benar. Perlu mengembangkan pola pikir positif untuk mampu melihat dengan jernih berbagai hal atau peristiwa yang terjadi di sekitar kita. “Melihatlah dengan jernih!” Apa yang kita lihat dalam diri orang lain, bahkan dalam diri sendiri, tergantung pada kejernihan jendela yang melaluinya kita melihat mereka. Demikian juga dengan “keselamatan” yang dari Tuhan. Banyak orang yang gagal melihat, mengalami, dan merasakan keselamatan itu, karena “jendela hatinya” yang masih belum bersih. Berita Injil Kristus, keselamatan dan sukacita yang sesungguhnya telah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Ketika “jendela hati” kita masih “berdebu”, penuh dengan berbagai kotoran duniawi, telah ditutupi oleh berbagai ilah zaman, maka percayalah kita akan kesulitan melihat dengan jernih berita Injil itu, seolah-olah keselamatan yang dari Tuhan tersebut tersembunyi bagi kita. Tentu ada banyak bentuk dan wujud dari ilah zaman ini yang dapat membutakan mata dan pikiran kita, mulai dari keinginan individu dan golongan, kepentingan parsial, kebutuhan “ni’ila hörö ibabaya tanga”, gaya hidup glamor, pola hidup yang sangat modern, kebebasan yang kebablasan, dan berbagai keinginan duniawi lainnya. Ada banyak “new idol” dalam kehidupan kita dewasa ini! Hal inilah semua yang dapat menghalangi kita dalam penerimaan berita Injil Kristus, sehingga sukacita dan keselamatan itu menjadi tersembunyi bagi banyak orang. Ketika “jendela hati” kita sudah bersih, maka kita akan mampu menerima dengan baik berita Injil yang menyelamatkan itu. Ketika “jendela hati” kita sudah jernih, maka kita akan menjadi warga jemaat yang setia di tengah-tengah ketidaksetiaan dunia ini. - selamat berefleksi - “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan” Roma 1211 Tuhan telah memberikan talenta kepada setiap orang. Ada yang diberi banyak, ada yang diberi sedikit, masing-masing menurut kesanggupannya Mat. 2515. Talenta adalah bakat atau kemampuan yang dimiliki dan merupakan nilai lebih dari seseorang. Tujuan Tuhan memberikan talenta adalah agar kita dapat menggunakannya di dalam kehidupan kita. Selain untuk kepentingan duniawi, talenta juga harus dipakai untuk kepentingan rohani. Karena talenta itu berasal dari Tuhan, maka kita harus mempersembahkannya untuk Tuhan. Setiap orang memiliki talenta yang berbeda dan semua itu berguna untuk mendukung pekerjaan Tuhan. Walaupun semua orang bisa melayani, namun pelayanan tersebut akan menjadi lebih efektif bila dilakukan oleh orang-orang yang ahli di bidangnya. Misalnya, orang yang memiliki talenta dalam hal menyanyi. Jika dia memimpin pujian, maka pujian yang dibawakannya akan lebih indah dan enak atau tidaknya talenta yang dimiliki seseorang tidak menjadi masalah. Walaupun hanya memiliki satu talenta, janganlah kita berkecil hati. Tuhanlah yang mengaruniakan talenta itu kepada kita. Hal yang terpenting adalah kita menggunakan semua talenta yang ada pada diri kita dengan sebaik-baiknya. Bagi orang yang memiliki banyak talenta, janganlah sombong. Semakin banyak talenta yang dimiliki, semakin banyak yang dituntut dari kita. Tuhan akan meminta pertanggungjawaban kita atas talenta yang telah dikaruniakan-Nya kepada kita. Jika kita menyia-nyiakannya, kita akan menerima hukuman karena lalai menggunakan talenta-talenta itu Mat. 2530Di dalam gereja, banyak sekali pekerjaan kudus yang harus dilakukan. Gereja sangat membutuhkan para pekerja. Sebagai jemaat gereja, kita harus berpartisipasi dalam pekerjaan Tuhan. Idealnya, setiap jemaat bisa terlibat dalam pelayanan. Jika demikian, gereja akan menjadi maju. Tidak peduli besar kecilnya tugas yang kita terima, asalkan kita melakukannya dengan setia, Tuhan pasti akan seringkali semangat untuk melayani itu hanya muncul di awal. Ketika baru berpartisipasi dalam suatu pekerjaan, kita sangat aktif dan giat. Namun, dengan berlalunya waktu, semangat itu biasanya semakin menurun. Bahkan ada jemaat yang meninggalkan pelayanan karena berbagai Paulus menasihatkan kita, “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” 1Kor. 1558 Rasul Paulus menasihati jemaat di Roma dan Korintus untuk tetap bersukacita dan bersemangat dalam melayani. Saat itu jemaat Roma sedang mengalami banyak rintangan dan kesusahan. Jemaat Korintus sedang mengalami masalah perpecahan. Namun, dalam kondisi seperti itu, Rasul Paulus mengingatkan mereka untuk tetap giat di dalam pun harus giat dan bertekad untuk setia melayani-Nya sampai akhir. Berusahalah agar jangan kerajinan kita menjadi kendor. Apapun yang terjadi, tetaplah melayani. Sungguh merupakan sebuah anugerah jika kita dapat dipakai Tuhan. Ini merupakan kesempatan bagi kita untuk menggunakan semua talenta yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita dan kesempatan kita untuk membalas kasih-Nya yang begitu besar kepada kita. Ingatlah bahwa apapun yang kita lakukan bagi Tuhan tidak akan sia-sia. Tuhan akan memberikan upah sesuai dengan apa yang kita lakukan.

khotbah setia dalam pelayanan